Jangan Marah Maka Bagimu Surga

Bagaimanakah suasana hatimu saat marah atau membenci seseorang? Senangkah? Legakah? Sesakkah dadamu? Sakitkah? Atau? (Ini pertanyaan dari KH Husein Muhammad)*

Kalau saya, jujur saja, sakit, dada jadi sesak, jauh dari ketenangan, menganggap apa yang kita benci seolah serba salah, tak ada baik-baiknya sama sekali, pokoknya jauh dari kedamaian hati lah.

Nah, begitulah apa yang ingin KH Husein Muhammad sampaikan, ketika kita marah, tidak ada manfaatnya sama sekali bagi diri kita. Apakah kita jadi lega dan senang setelah marah? Tidak, justru kita gelisah dan was-was, sakit dan tidak bisa berpikir jernih. Malah akan merugikan diri kita sendiri. Ujung-ujungnya kecewa pada diri sendiri, tidak bisa mengontrol emosi.

Apa yang terjadi belakangan ini harusnya kita tanggapi dengan hati yang bersih dan pikiran yang terbuka. Kejadian apa itu? Pasti umat muslim di seluruh Indonesia paham lah, perihal Petahana yang karena tidak pandai menjaga lisan, berdampak pada tersakitinya hati umat muslim yang menganggap ucapan Pak Ahok itu merupakan penistaan agama.

Umat Islam marah, ya itu sah-sah saja… itu hak masing-masing untuk marah. Pak Ahok memang salah karena tidak bisa menjaga lisannya dan beliau sudah minta maaf dengan kerendahan hatinya.

Tapi apa yang terjadi? Ribuan orang berbondong-bondong demo menuntut Pak Ahok yang disebut telah melecehkan dan menistakan agama Islam. Setelah beliau secara resmi telah meminta maaf lho…

Apa kita tidak bisa dengan besar hati memaafkan kesalahan beliau.  Apa kita harus terus menerus marah dan menyimpan dendam pada beliau? Tidak, bukan itu yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Apa gunanya setelah kita marah-marah, apakah dengan kita marah, kita telah membela agama?

So guys, wes ta laa damai…
Yang muslim, gak mau memilih pak Ahok di pilkada nanti ya monggo, gak usah dipilih.. Itu hak masing-masing kalian to? Gitu aja kok repot.

Sebenarnya apa sih yang dibela?
Membela Allah, Allah tidak butuh kita bela, kita yang butuh Allah.
Apa yang dimaksud membela agama?
Apa yang dimaksud agama?
Apakah yang kita pertuhankan? Allah atau Agama?

Kalau kita mentuhankan Allah, kita harus menyayangi sesama makhluk Allah, jangan saling membenci, karena begitulah Allah, Allah mencintai semua makhluk-Nya.

Saya bukan pembela Ahok dan bukan juga pembenci beliau, saya hanya ingin kerukunan beragama di negeri ini tetap terjaga. Dah, itu aja.

Sayang sekali, kalau sampai huru-hara ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin negara Indonesia hancur.  Mereka tidak butuh senjata canggih untuk menghancurkan Indonesia. Hanya cukup menyebarkan isu SARA dan rakyat Indonesia sendiri yang berperang saling bunuh.

Kenapa kita tak kunjung belajar pada negara-negara yang telah runtuh pemerintahannya di Timur Tengah sana. Semua itu disebabkan oleh rakyatnya sendiri, yang mudah marah dan mudah di adu domba oleh isu sektarian dan agama.

Mari berpikir jernih, mari minum S*rite 😀

Posted from WordPress for Android

Belajar Membuat Onde-onde 😆

image

Jadi ceritanya, mbahku bilang padaku bahwa malam ini akan ada acara dzikir bersama di masjid dekat rumah kami.

Lalu masing-masing orang yang datang ke masjid biasanya membawa sedikit kue untuk sekedar macit sebelum acara dimulai.

Nah, tiba-tiba ada ide untuk buat onde-onde. Karena punya keinginan buat onde-onde sudah lama juga, jadi sekalian aja deh belajar :mrgreen:

Onde-onde ini sama seperti onde-onde pada umumnya, yaitu terbuat dari tepung ketan, gula putih, diisi kacang hijau, dan ditaburi dengan biji wijen.

Anyway, onde-onde ini masih setengah jadi lhoo~ alias belum digoreng hehe, soalnya gorengnya mau nanti sore aja 😂

Rasanya seneng yaaa~
Kalau baru pertama kali praktek buat sesuatu dan langsung bisa 😅

Posted from WordPress for Android

Sup Oyong Telur

image

Hello hello 🙆
Akhir-akhir ini lagi rajin-rajinnya nih belajar masak dan nyobain resep-resep terbaru 😄

Sore ini, aku baru aja mempraktekkan resep masakan baru yang kudapat dari akun instagram @masakanroemah

Rasanya endeusss….. 👍

Setahuku sih, oyong a.k.a gambas umumnya ditumis atau direbus sebagai lalapan. Nah, kali ini ada yang beda… yaitu oyong dibuat sup dan diolah sama telur.

Awalnya sempat ragu juga sama rasanya, tapi berhubung penasaran gimana rasanya… langsung coba praktekkin ajah :mrgreen:

Bahan-bahan:
3 Oyong yang diiris dadu (sesuai selera)
1 Butir Telur
Merica secukupnya (haluskan)
3 Bawang putih (iris tipis)
Bawang bombay secukupnya (iris tipis)
Garam secukupnya (haluskan)
Gula putih secukupnya
Minyak untuk menumis bawang
Air (secukupnya)

Cara membuat:
– Siapkan minyak untuk menumis bawang putih dan bawang bombay
– masukkan merica dan garam yang telah dihaluskan
– tambahkan air secukupnya
– masukkan telur lalu aduk dengan spatula hingga setengah matang
– masukkan oyong, tunggu hingga matang
– koreksi rasa (tambah garam atau tambah gula putih)
– angkat dan siap dihidangkan 😄

Mudah kan? 😀

1 rumah makan masakanku dan bilang enak lho ~
Ibuku yang awalnya bilang “ih, masak apa sih, kok dicampur telur segala” jadi ikutan bilang enak juga.. lalalalaa ~

Posted from WordPress for Android

THROWBACK

[WARNING! LONG POST]

Hai…
Banyak banget hal-hal menarik, hari-hari yang menggembirakan, dan moment yang sangat tak terlupakan selama ini, yang sayangnya baru sempat kutuliskan di blog ini.

Padahal ada keinginan sangat kuat untuk menuliskannya disela-sela waktu luang yang ada. Tapi entah kenapa keinginan tersebut kandas karena rasa “malas mengetik” dan “ndak mood merangkai kata-kata” 😅 #tehee

Momen yang belum lama sama-sama kita lewati dan masih terasa kenangannya *cieeekenangan* yaitu momen lebaran Idul Fitri bersama keluarga dan kerabat tercinta.

Nah, kalau aku sendiri nih. Kemarin, saat lebaran, lebih banyak jalan-jalan ke keluarga yang rumahnya lumayan jauh (meskipun masih di sekitaran Lampung juga sih) 😅

Well, Lebaran Hari Pertama (6 Juli)
Setelah sholat Idul Fitri di masjid, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku, ibu, dan bapak mengunjungi rumah mbah yang letaknya hanya disebelah rumah kami. Kami ‘sungkem’  saling meminta maaf dan memaafkan atas segala kesalahan dan khilaf yang ada. Anak-anak mbah, rata-rata selalu berlebaran di kampung halaman di Palas. Hanya di tahun ini saja, anak-anak mbah tidak komplit. Om Hendra dan keluarganya yang tinggal di Bengkulu tidak bisa pulang untuk berlebaran di kampung halaman karena hal yang urgent. Tapi it’s okay lah, kami semua memahami, karena jarak yang jauh dan lagi pula kami sudah sempat bertemu om Hendra saat mbah ibu sedang sakit dan harus dirawat di RS.

Di hari pertama lebaran, kami berkeliling dan berkunjung ke rumah-rumah tetangga layaknya lebaran di tahun-tahun sebelumnya juga. Kami bersilaturahmi, saling memaafkan, bercengkrama dengan hangat, dan yang paling kusuka adalah mencicipi aneka kue yang mereka suguhkan hihihi…

Aku paling suka tape ketan buatan mbah Tumini (tetangga di sebelah rumah mbah-ku) yang begitu khas dan hanya bisa kutemukan saat lebaran saja 😅 Rasanya yang manis dan berbeda dengan tape-tape lainnya selalu membuatku terbayang-bayang ingin mencicipinya lagi. Hmmm ~ Berbeda dengan kue-kue yang aku dan ibuku buat, kami kebanyakan membuat aneka kue kering yang terbuat dari tepung, telur, gula, dan blu*band 😂

Kami berkeliling hingga sore. Menghabiskan waktu di lebaran pertama ini untuk berkunjung ke rumah-rumah tetangga hingga ke ujung gang sebelum kami hijrah ke Bekri di lebaran hari kedua.

NOTE: Kami tidak punya foto keluarga di hari lebaran 😭😭😭

Lebaran Hari Kedua & Ketiga (7-8 Juli)
Kami memutuskan untuk mengunjungi kampung halaman bapak di Bekri, daerah perkebunan tebu (yang dulunya kebun sawit), masih di provinsi Lampung. Aku, ibu, bapak, dan dua sepupuku (Cahyo & Satrio) berangkat pukul 8 pagi. Sampai di Natar, jalanan macet panjang sekali, padat merayap. Setelah terjebak dari macet, kami istirahat dan sholat di masjid sekitar Tegineneng. Perjalanan dilanjutkan lagi dan akhirnya kami sampai di Bekri kira-kira pukul 14.30 WIB. Lelah sekali rasanya perjalanan saat itu dikarenakan macet.

Rumah kakung saat itu sedang sangat ramai dipenuhi oleh tamu yang berkunjung ke rumah dalam rangka bermaaf-maafan. Kamipun harus mengantri untuk sungkem kepada kakung dan makwo 😅

Sore harinya, krucil – krucil ribut sekali mengajak untuk pergi ke tempat wisata waterboom yang belum lama ini dibuka. Akupun terkejut ada waterboom di kampung Bekri 😁 Lokasinya lumayan jauh dan jalan menuju ke sana cukup melelahkan karena jalanan jelek + berbatu terjal.

Ketika sampai di waterboom, kami sangat heran dengan ongkos yang harus dikeluarkan untuk masuk ke dalamnya. Untuk ukuran anak kecil saja, harus membayar Rp.25.000 sedangkan orang dewasa membayar Rp.30.000. Bayangan kami, karena wahana ini baru dibuka, paling-paling bayarnya hanya Rp.5000 – Rp.10.000 lah. Tapi ini…. *tercengang* 😯 padahal tak ada fasilitas yang istimewa juga.

Tapi karena kami sudah jauh-jauh datang, terpaksa kami akhirnya membayar juga dengan harga yang ditentukan. Karena krucil – krucil juga sudah pada gak sabar sih ingin masuk dan nyemplung ke kolam. Oh ya, jumlah kami lumayan banyak loh, 13 orang. 5 orang dewasa dan 8 anak-anak. Lumayan juga yang bayarin rek 😧 yang pasti bukan eike yang bayar 😂

Padahal kami (yang tergolong orang dewasa) 😆 hanya mengawasi anak-anak saja dari tepi kolam. Kok harus bayar juga yoo~ isssh 😌

image

Setelah mereka puas bermain air, akhirnya kami pulang lagi ke rumah dan Alhamdulillah rumah sudah sepi 😂 kami bisa istirahat sejenak.

Karena keluarga kakung juga lumayan banyak banget ditambah cucu-cucunya yang sebagian sudah punya anak juga, malamnya kami tidur di depan tv ramai – ramai 😪

Paginya (Lebaran Hari Ketiga) kami berkeliling ke rumah – rumah tetangga disana. Setelah dzuhur, kami pulang lagi ke Palas. Sampai rumah kira-kira sore menjelang maghrib.

Dan, oh yaa~ pulangnya, mobil yang kami naiki pecah ban di jalan sekitar Natar 😥 syediiiih :'(:'(:'(

Akhirnya bapak membongkar ban dan membawanya ke tukang tambal ban. Untung saja posisi kami dekat tukang tambal ban, Alhamdulillah. Saat itu kami juga kelaparan di jalan 😅 sambil menunggu ban ditambal, kami makan di pinggir jalan, di kebun milik orang 😅😅

Alhamdulillah sudah dibawakan bekal makanan oleh keluarga kakung di Bekri. Dan kami juga sudah menyiapkan karpet dari rumah kalau – kalau mau istirahat di jalan. Bersyukur banget hihihi :mrgreen:

image

Lebaran Hari Keempat (9 Juli)
Lebaran hari keempat, kami sekeluarga pergi ke Metro untuk acara arisan keluarga sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga Asmo Pawiro (kakek moyang kami) yang sudah rutin diadakan setiap tahun (sudah lebih dari 10 tahun). Sebenarnya arisan keluarganya tidak begitu penting sih. Yang terpenting adalah kesempatan berkumpul dan bertemu dengan seluruh keluarga yang mungkin hanya bisa terjadi dalam setahun sekali.

Kami sampai sebelum adzan dzuhur dikumandangkan. Setelah sholat, kami makan siang dan memulai arisan. Acara selesai, kami semua halal bi halal lalu pulang ke rumah dan daerah masing – masing.

image

Pulangnya, kami mengajak mbah buyut (Pringsewu) untuk ikut pulang ke Palas. Sampai hari ini pun mbah buyut masih di Palas, kami tidak membolehkan beliau pulang ke Pringsewu 😅 hihihi

Lebaran Hari Kelima (10 Juli)
Di hari minggu itu, kami sekeluarga berada di rumah, tidak pergi ke mana-mana 😂 mulai sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan untuk keesokan harinya 😆 untuk menyambut calon keluarga baru *uhukkk* 😁

Sudah mulai merasa deg-degan, jantung ini serasa mau copot…
Antara tidak percaya dan terlalu kesenengan 😅

Uhmmm oh yaaa, sore harinya, temanku mbak Tika (Katibung) dan Nanda (Metro Kibang) datang ke rumah. Mereka sengaja datang untuk ikut menyaksikan hari itu 😆 Sebenarnya teman-teman yang lain sangat ingin datang juga ke rumah saat aku di khi**ah. Berhubung sangat mendadak, banyak yang tidak bisa ke rumah deh~ alhasil hanya Nanda dan mbak Tika yang bisa.

Do’ain yaaa~ semoga mereka cepat menikah 😁

Lebaran Hari Keenam (Senin, 11 Juli)

image

Dan hari itu tiba~
Tadinya di lebaran hari keenam ini, keluarga mas Friski dari Kota Bumi (akhirnya kusebut juga :oops:) berencana ingin bersilaturahmi ke rumah kami di Palas. Tapi malam Minggunya, beliau bilang padaku kalau hari Senin mau sekalian lamaran juga hihihi 😳 Orang tuaku langsung meng-iya-kan saja, Alhamdulillah 🙂

Sejak pukul 10 pagi, keluargaku dan beberapa tetangga sudah berkumpul di rumah menunggu kedatangan keluarga mas Friski 😳

Aku semakin deg-degan saja :twisted::twisted::twisted::twisted::twisted:
Karena melihat aku mondar mandir panik ndak jelas, mbak Tika dan Nanda malah mengajak aku selfie-selfie 😫 hehe tapi jadi agak mendingan sih, ndak terlalu deg-degan lagi 😩

image

Aku berkali-kali menanyakan “sudah sampai mana?“, sampai malu rasanya aku nanya mulu :3

Kira-kira pukul 13.00, mas Friski dan keluarga tiba. Aku sedikit lega. Tapi tetap deg-degan juga 😣

Acara lamaran dimulai dan jujur saja aku ndak begitu mengerti apa yang dibicarakan. Memakai bahasa Jawa yang halus dengan kosa kata yang jarang sekali kudengar.

Aku hanya paham saat aku dipanggil untuk diberikan cincin. Aku gugup banget 😣

image

Sampai sekarang ketawa gulung-gulung sendiri kalau lihat foto-foto saat mau dipakaikan cincin =__=

Lihatlah tanganku 😭
Kenapa tangan kananku ikut megangin pergelangan tangan kiri yang mau dipakaikan cincin 😭
Aku takut kalau tanganku gemeteran, jadi tanganku yang satu ikut pegang tangan yang kiri juga, tapi hasilnya malah gitu amat yaa 😭😭😭 #plok

How silly I am :'(:'(:'(
Ah sudahlah yang penting itu sudah berlalu dan aku senang karena acaranya berjalan dengan lancar, Alhamdulillah :):):)

Setelah itu, kami makan siang bersama dilanjutkan membicarakan tanggal akad nikah. Hanya beberapa jam saja, mas Friski dan keluarga sudah harus berpamitan pulang. Rasanya sebentar sekali 😩

Terimakasih sudah datang 🙂
That day I felt so happy 😇

image

Tak lama kemudian, mbak Tika dan Nanda juga ikut berpamitan pulang. Mereka banyak membantu banget dalam menyiapkan segala sesuatunya… thank you so much ~

Selasa, 12 Juli
Hari itu aku diajak oleh Pita ke rumah teman kami, mbak Septika yang rumahnya di Desa Sukaraja. Aku menuju ke rumah Pita dan bertemu kedua orangtuanya. Pita sungguh tak percaya bahwa aku baru saja *uhukk* dil**ar ^^ setelah aku menceritakan kepadanya, baru dia percaya…

Lalu kami berdua mampir ke rumah mbak Wiwit (yang baru saja menikah). Disana kami diberi wejangan yang banyak hihi 😁

Kami tiba di rumah mbak Septika. Disana kami makan siang seperti berada di rumah sendiri hahaha… setelah itu kami bertiga menonton film horor di kamarnya dan pulang pukul 15.00.

Rabu, 13 Juli
Ibuku sudah mulai aktif berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, bapak mengajak ke Way Sulan untuk mengunjungi saudara bapak disana. Yasudah deh mumpung masih suasana lebaran.

Seperti biasa, kami selalu mengajak si kuman-kuman, Cahyo dan Satrio 😂

Way Sulan letaknya dekat kecamatan Sidomulyo, kurang lebih memerlukan waktu 1 jam untuk sampai ke Sidomulyo. Untuk ke Way Sulan sendiri, mungkin butuh waktu sekitar 20 menit dari Sidomulyo karena kami tak begitu paham juga dengan daerah sana. Kami lebih sering bertanya pada orang-orang yang kami temui di jalan.

Kami sampai di rumah saudara bapak setelah melewati berhektar-hektar sawah yang sedang hijau menyegarkan, sayangnya jalanan sangat tidak bagus. Banyak sekali jalan berlubang dan digenangi oleh air hujan.

Kami dipaksa untuk menginap disana semalam. Tapi karena paginya ibuku harus mengajar di sekolah dan kedua sepupuku juga harus sekolah, akhirnya kami menolak secara halus ajakan untuk menginap ^^

image

image

image

Jum’at, 15 Juli
Hari jum’at itu, aku dikejutkan oleh BBM dari Andrew, “max, kita hari ini mau main ke rumah ya, ini udah di jalan”. WHAT~ 😮
Mereka mendadak sekali mengabariku.

Mereka adalah teman di kelasku, ada Andrew, Ipin, dan juga Setia. Nanda tak bisa ikut karena sedang ada acara MOS. Sebelum mereka ke rumahku, mereka mampir ke rumah mbak Tika dulu di Katibung. Karena aku belum pernah ke rumah mbak Tika, aku memutuskan untuk ke rumahnya juga, aku meminta mbak Tika untuk menjemputku di tugu Topeng Katibung karena rumahnya berada di dalam-dalam gang. Lalu, nanti aku, Andrew, Ipin, Setia, dan mbak Tika bisa ke rumahku sama-sama.

Sampailah aku di rumah mbak Tika dan sholat dzuhur disana. Kami segera disuruh makan siang hahai 😆

Kalau ke daerah Kalianda, mereka (apalagi Andrew) sangat ribut minta ke Pantai. Akhirnya aku menuruti ajakan mereka. Kami mampir ke Pantai Bagus, pantai dekat dengan Grand Elty Krakatoa. Bayar Rp.20.000 per orang. Suasana pantai saat itu sudah sepi karena juga sudah agak sore.

image

Kami sampai di rumah menjelang maghrib 😩
Makan malam dengan menu ikan patin bakar…
Malamnya, aku tidur bertiga bersama Setia dan mbak Tika di kamarku. Andrew dan Ipin tidur di kamar depan dekat ruang tamu.

Paginya, 16 Juli, mbak Tika dan Setia meminta izin kepada ibu dan bapak untuk mengajak aku ke Metro. Sebelumnya, orangtuaku melarang aku ke Metro dengan alasan jalanan masih rame dan rawan begal katanya. Tapi karena aku juga bilang bahwa hari Senin sekalian mau ambil ijazah di kampus, akhirnya orangtuaku membolehkan yeeee 🙆

Minggu, 17 Juli
Hihi hari itu hari yang memorable banget ❤

Karena cincin yang kebesaran, kami menukarkannya di toko emas tempat cincin itu dibeli. Sebenarnya bukan ditukar :mrgreen: tapi dikecilin.

Malamnya, mas Friski meminta izin ke bapak via telfon untuk mengajakku ke Kota Bumi. Alhamdulillah diizinin 🙂 Terimakasih bapak 😙

Ceritanya, rahasia rahasia rahasia 😂

Kami berangkat dari Metro sekitar pukul 9.00 lebih dikit dan sampai di rumah mas Friski pukul 12.00 lebih juga, saat sholat dzuhur tiba.

Setelah sholat dzuhur, ibu mas Friski, bulek, dan uni Nina (calon kakak Ipar) sudah menyiapkan menu makan siang yang enaaaak ~ ada pindang ikan patin, daun singkong, sambal terasi, dan masih banyak lagi hihi Kami makan siang bersama… sama nenek, lufi, dio, dewa, ibu, bulek, uni nina, dan mas Friski of course 😄

Setelah itu, keliling ke rumah saudara-saudara yang letak rumahnya berdekatan satu sama lain ^^

Pukul 15.00, aku kembali ke Metro dan mas Friski kembali lagi ke Bandar Lampung. Untung saja tidak jadi hujan khukhukhu

Sampai di Metro pas adzan maghrib. Kami sholat maghrib di masjid pinggir jalan. Aku diantar pulang dan mas Friski melanjutkan perjalanan lagi ke Bandar Lampung (kasihannyaaaa….)

Malamnya baru terasa kalau badan pegel – pegel semua 😂

I was so happy, even I was very tired too 😄😅
I’m happy to know his whole family there…

Senin, 18 Juli
Aku mengunjungi kampus tepatnya kantor prodi, pada pukul 9 pagi. Di sana bertemu dengan dosen-dosenku, ada Mr Amir, Mr Dowo, Bunda Eva, Mum Fitri, Mum Lilis, dan Mum Aulia. Sekalian lebaran yah, pikirku. Sayangnya aku ndak bertemu bunda Fenny, bundo tersayang dan terkeceeh di PBI 😄

Saat bertemu para dosen, aku sudah menduga “bakalan diledekin nih…” Aku cuma cengar-cengir aja deh…

Aku berniat ke kampus untuk mengambil ijazah juga sih, kebetulan ternyata sudah bisa diambil.

image

Setelah dapat ijazah, aku pergi ke kostan Setia dan mbak Tika. Mereka menagih janji untuk makan masakanku 😣
Yaudin deh aku masak sop bakso aja + tempe goreng + sambal kecap. Tapi saat itu aku masaknya setelah pulang dari rumah Cepy (soalnya sudah janji mau main ke rumahnya hihi)

image

Aku juga mengajak Cepy main ke rumah mbak Oki. Naah… teman sekelasku, mbak Oki ini baru aja menikah, wahh senangnyaa yang baru menikah hihi, akadnya tanggal 30 kemarin. Tapi aku ndak bisa ke Metro karena bertepatan dengan acara akikah sepupuku, Cahyo, di rumah bulek Lely. Tadinya aku berniat untuk ke Metro hari minggu, tanggal 31, saat resepsi di rumah pengantin prianya. Tapi lagi-lagi gagal, karena hujaaan deras yang mengguyur Palas dan akhirnya aku tidak dibolehkan pergi kemana-mana.

Sabtu, 23 Juli
3 hari sebelumnya, aku rewang alias membantu persiapan di rumah kakak tingkatku yang menikah. Berkumpul bersama ibu-ibu yang tak henti menggosip sembari membuat kue dan membungkusi nasi antar-antar.

Untungnya, ada Pita yang juga ikutan rewang disana, jadi lumayan lah masih ada temen yang bisa diajak ngobrol mengenai topik khas anak muda getooh~ *iyamasihmudakok* 😅

Saat hari H, aku ikut menghadiri prosesi akad nikah yang dimulai pada pukul 8 pagi. Ternyata liat akad nikah bisa ikutan nangis juga ya gaes 😥 terharu…..

image

image

Well then, selamat menempuh hidup baru untuk mba Wiwit dan Alsan, semoga menjadi keluarga bahagia dunia dan akhirat. Aamiin 🙂

===============

Hehe panjang ya ceritanya 😄
Begitulah kalau lagi males nulis akhirnya dirapel gini deh 😅

image

Posted from WordPress for Android